Hajriyanto Y. Thohari: Generasi Muda Harus Didorong Jadi Wirausahawan
Kamis, 07/02/2013 09:27
Drs. Hajriyanto Y. Thohari, MA
(Humas MPR)
Hajriyanto menyebut UUD Tahun 1945 sebagai pangkal dan tolak ukur untuk mencapai kesejahteraan sebab dalam Pembukaan UUD Tahun 1945 Alinea IV mengamanahkan pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. “Tujuan ini sebenarnya sudah ditegaskan sejak 68 tahun yang lalu namun sampai saat ini belum tercapai,” ungkapnya.
Belum tercapainya kesejahteraan bisa diukur dari masih banyaknya kemiskinan, ketimpangan pendapatan, dan masih banyaknya masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah. Rendahnya pendidikan masyarakat inilah yang menjadi akar kesulitan untuk mengimplementasikan berbagai kebijakan.
Untuk meningkatkan kesejahteraan maka dunia pendidikan harus diperhatikan lebih. Dalam dunia pendidikan, dikatakan oleh Hajriyanto setiap warga negara berhak mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayai. Dari sinilah maka 20% APBN dialokasikan untuk dunia pendidikan. Diingatkan agar masyarakat ketika bersekolah jangan hanya sekadar untuk mencari ijazah dan kemudian bekerja di sektor formal, PNS. PNS diakui saat ini jumlahnya sudah mencapai 4,7 juta dan gajinya hampir menghabiskan APBN.
Saat ini di masyarakat ada pandangan yang tidak tepat yang menyimpulkan bahwa seseorang sudah bekerja kalau sudah menjadi PNS, bila masih kerja di sektor lainnya, informal, maka dianggap belum bekerja. “Ada pandangan neo priyayi,” katanya dengan tersenyum. Untuk itulah maka Hajriyanto menekankan agar pendidikan di Indonesia memiliki dan menanamkan jiwa kewirausahaan. “Anak-anak harus didorong menjadi wirausahawan,” tegasnya.
Ketika dunia kewirausahaan digencarkan maka pemerintah juga harus menciptakan sektor riel yang terbuka, seperti memberi perijinan yang mudah, dunia perbankan pun juga harus mendukungnya. “Bank jangan hanya memberi pinjaman pada pengusaha besar,” paparnya.
Sosialisasi yang tayang di TVRI, on air, pada minggu kedua Februari 2013 itu dimeriahkan oleh wayang khas sunda dengan tokoh utama Cepot dan Dudung. Dua wayang yang dimainkan oleh ki dalang itu berceloteh dan berkelakar mengenai masalah kesejahteraan. Celotehan semakin heboh karena komedian Temon dan Yasir juga hadir dalam kesempatan itu. Sehingga saat sosialisasi begitu cair dan bukan sebagai indoktrinasi.