Syahid karena Cinta
,,, Syahid karena Cinta ,,,
“Barangsiapa jatuh cinta, lalu menyembunyikan cintanya, menahan diri, bersabar lalu meninggal dunia maka ia mati syahid”
Ungkapan Rasulullah SAW ini diriwayatkan oleh Suwaid bin Sa’id
Al-Hadatsani, walau sejatinya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dalam
risalahnya Raudhatul Muhibbin menyatakan ini sebagai hadits
maudhu dan mauquf. Alasannya simpel, berdasar riwayat shahih, penjelasan
Rasulullah tentang macam kesyahidan tidak pernah memasukkan dan
menyebutkan sebab matinya karena jatuh cinta itu syahid. Ibnul Qoyyim
mengutip hadits ini ke dalam pembahasan yang sangat indah tentang para
pemuja cinta.
Namun, bila urutannya adalah jika cinta itu menjadi spirit, ia
sembunyikan dengan penyembunyian yang melahirkan potensi-potensi
keshalehan, ia menahan diri tidak terjerembab dalam kecintaan syahwati,
geloranya ia bingkai dengan ketinggian kecintaan pada Sang Pemilik
Cinta, Al-Waduud. Lalu ia bersabar, iffah, menjaga diri dari kecintaan
pada penghambaan makhluq, ia serahkan segala energi cintanya hanya untuk
Allah semata. Penggambaran-penggambaran manisnya cintanya itu ia
tumpahkan segalanya untuk Sang Khaliq. Lalu ia terkubur dalam
timbunan-timbunan mahabbah, ia rasakan kelezatannya dalam penghambaan,
lalu sampai di ujung umurnya hingga mati. Ia syahid.
Kisah romantika dua manusia, dimabuk cinta. Seorang laki-laki ahli
ibadah, pemuda Kuffi, cintanya menghampiri gadis cantik nan elok.
Cintanya berbalas. Gadis itu sama cintanya. Bahkan ketika lamaran sang
pemuda ditolak karena sang gadis telah dijodohkan dengan saudara
sepupunya, mereka tetap nekad, ternyata. Gadis itu bahkan menggodanya,
“Sayang, aku akan datang padamu atau kuatur cara supaya kamu bisa
menyelinap ke rumahku”. Gadis itu menghamparkan selendang syahwatnya.
“Tidak! Aku menolak kedua pilihan itu. Aku takut pada neraka yang
nyalanya tak pernah padam!” Itu jawaban sang pemuda yang membentak sang
gadis. Pemuda itu menjaga diri dan memenangkan iman atas syahwatnya
dengan kekuatan cinta.
“Jadi dia masih takut pada Allah?” gumam sang gadis.
Seketika ia tersadar dan dunia tiba-tiba jadi kerdil di matanya. Ia
pun bertaubat dan kemudian mewakafkan dirinya untuk ibadah. Ia tenggelam
dalam keseluruhan cintanya pada Al-Waduud. Walau cintanya pada sang
pemuda tidak pernah mati. Cintanya berubah jadi rindu yang mengelana
dalam jiwa dan doa-doanya. Tubuhnya luluh lantak didera rindu. Ia
terkubur oleh kerinduan, penggambaran kerinduannya ia arahkan pada
kerinduan untuk Allah SWT sang Pencipta Cinta. Sampai la mati, akhirnya.
Sang pemuda terhenyak. Itu mimpi buruk. Gadisnya telah pergi membawa
semua cintanya. Maka kuburan sang gadislah tempat ia mencurahkan rindu
dan do’a-do’anya. Sampai suatu saat ia tertidur di atas kuburan
gadisnya. Tiba-tiba sang gadis hadir dalam tidurnya. Cantik. Sangat
cantik dan jelita.
“Apa kabar? Bagaimana keadaanmu setelah kepergianku,” tanya sang gadis.
“Baik-baik saja. Kamu sendiri di sana bagaimana?” jawabnya sambil balik bertanya.
“Aku di sini dalam surga abadi, dalam nikmat dan hidup tanpa akhir,” jawab gadisnya.
“Doakan aku. Jangan pernah lupa padaku. Aku selalu ingat padamu. Kapan aku bisa bertemu denganmu?” tanya sang pemuda lagi.
“Aku juga tidak pernah lupa padamu. Aku selalu berdoa agar Allah
menyatukan kita di surga. Teruslah beribadah. Sebentar lagi kamu akan
menyusulku,” jawab sang gadis. Hanya tujuh malam setelah mimpi itu, sang
pemuda pun menemui ajalnya. Dalam hujaman kecintaan kepada Rabbnya.
“Atas nama cinta ia memenangkan Allah atas dirinya sendiri,
memenangkan iman atas syahwatnya sendiri. Atas nama cinta pula Allah
mempertemukan mereka. Cinta selalu bekerja dengan cara itu”. Subhanallah. Tak ada yang dapat menafikan. Ia mati dalam seindah kematian. Energi cintanya mewariskan pengorbanan yang tulus.
Seperti kecintaannya sendiri terhadap kematian. Ada seribu satu kisah
romantika anak manusia. Ada kisah dengan gadis cantik jelita. Ada pula
kisah dengan pesona dirinya. Sama-sama pemuda. Fathi Farhat namanya.
Awalnya ia mencintai dirinya, mencintai ibunya, mencintai kemulyaannya,
mencintai tanahnya, keluarganya bahkan negaranya. Namun geloranya tak
berhenti pada kecintaan yang absurt, ada rongga yang nampak jelas bahwa
tujuan cintanya itu ia wujudkan dengan keinginannya untuk merdeka,
merdeka dari penindasan yang telah mengoyak-ngoyak simbol ketauhidannya.
Sang Khaliq telah memerdekakannya dari segala belenggu. Ia menyimpan
cintanya menjadi gunungan-gunung mahabbah menuju cita-citanya beriring
bersama kafilah para syuhada’. Ia bersabar bagai antrian syuhada’.
Menyusuli para qiyadahnya, yang rindu bersalam jumpa, rindu dengan
penyapaan penjaga pintu surga, dengan penyapaan salaamun alaikum thibtum
fadhuluuhaa, khaalidin (selamat atas kalian, dan segeralah masuk ke
dalam surga dengan kekal).
Gambaran surga itulah yang mampu mengokohkan kecintaan dan
kerinduannya pada kenikmatan yang abadi walau ditebus dengan kematian.
Sama senikmat kematiannya walau ditempuh dengan derita yang hanya
sekejap saja. Ia bersabar, menunggu antrian saat terindah menjemput
kematian.
Senandung cinta. Yang menggelorakan. Menghidupkan. Spirit yang tak
pernah mati. Akan selalu hidup. Penuh mu’jizat kenabian. Cintanya
menjadi pengokoh. Membangunkan spiritnya untuk tidak pernah menyerah.
But our spirit will never die. Kelak takdir menghampirinya bahwa
kemenangan akan datang untuknya walau dengan washilah ‘perantara’
batu-batu yang menghujam musuh-musuhnya. Ini kisah yang membangkitkan,
kisah cinta. Bila dua kisah ini adalah kisah kesabaran dan kesadaran
untuk bersandar pada Sang Pemilik Cinta. Maka kematian yang dicintainya
menjadi jalan menuju kesyahidan. Dan, seperti itulah cinta bekerja.
“Salam Santun Menyejukkan…” (Anang Suharto) tv9
